Tak Tahan Dituding Korupsi 480 Triliun, MUI Curhat

ulama radikal di MUI tengku zulkarnaen

Beritahok.comMajels Ulama Indonesia atau yang sering kita denger dengan panggilan MUI. merasakan fitnah yang bertubi bertubi. Setelah mereka mengeluarkan rekomendasi terkait dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, Gubernur DKI Jakarta. MUI mengeluhkan mereka para pembela Ahok sudah mulai melakukan pembunuhan karakter melalui media media yang mereka miliki. Yang menjadi sasarannya adalah lembaga perlindungan pengawasan Obat dan Makanan ( LPPOP ) MUI.

Dalam keterangan MUI yang beredar wi Whatsapp hari ini pada 17 / 10 / 2016 beberapa media internet seperti nkritoday, infomenia, beritahok, hatree.me sampai ke media syiah arrahmahnews memuat berita yang sama dan sangat tendensius. yakni seputar korupsi senilai 480 Triliun. “Mereka seharusnya tidak meragukan kredibiltas penafsiran Alquran yang paling gampang diserang melalui isu Korupsi”

Osmena menerangkan setidaknya ada beberapa fitnah yang dilontrakan ke kami mengenai tuduhan pungutan 480 Triliun ini. Dasar mereka adalah portal pemberitaan, Dimana saat itu DPR tengah menggodok rancangan undang undang jaminan pokok Halal. Saat itu masih jadi tarik ulur siapa yang bertanggung jawab dengan kehalalan suatu produk.

RUU sendiri baru disahkan menjadi Undang Undang jaminan pokok produk pada tanggal 17 Oktober 2014. Dan dengan secara bodohnya para media abal-abal ini , yang pro-syiah dan akun pro Ahok ini tidak mengedit bagian kata rancangan untuk berita yang mereka rilis baru baru ini. Sementara RUU nya sendiri sudah di sahkan menjadi UU No 33 tahun 2014 lalu. Tentang jaminan Produk halal.

Untuk mengenai angka 480 Triliun ini pihaknya berujar bahwa jumlah tersebut keluar dari perhitungan potensi pemasukan dari urusan label halal. Faktanya sendiri dari 1.75 juta pengusaha selama ini MUI baru mengeluarkan 13.000 hingga  tahun 2014

Jadi silahkan dikalikan saja 13.000 kali 2juta. dan dikalikan dua tahun masa berlaku berarti hanya 52 Miliar. Luar biasa bukan fitnah mereka?

Incoming search terms:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*