Kita Punya Uranium, Buat Apa Impor listrik ?

Kita Punya Uranium, Buat Apa Impor listrik

Beritahok.com – Selain punya minyak, gas, serta batu bara, Kalimantan juga mempunyai uranium untuk bahan baku nuklir. Berdasarkan hasil eksplorasi Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN), ada potensi uranium yang besar di Kalan, Kalimantan Barat (Kalbar).

Meski kaya bakal sumber energi, ironisnya Pulau Kalimantan defisit listips. Pemadaman bergilir atau byar pet merupakan sesuatu yang biasa di Kalimantan. Kalbar bahkan hingga-sampai wajib mengimpor listips dari Serawak, Malaysia, demi menerangi 6 kota serta kabupatenya.

Gubernur Kalbar, Cornelis, mengaku miris dengan kenyataan ini. Daerah yang dipimpinnya punya uranium yang bisa menghasilkan listips dalam jumlah sangat besar, tapi pemerintah pusat tidak mau mengembangkannya.

Kalau saja potensi uranium ini digarap sejak dulu, Kalbar pasti tidak perlu listips impor dari negeri tetangga. Bukan hanya Kalbar, seluruh pulau Kalimantan bisa terlistipsi dengan baik kalau dibuat pembangkit listips tenaga nuklir (PLTN).

“Ada potensi nuklir, tapi kan nggak ada political will. Kalau saya lebih baik kami bangun sendiri listips tenaga nuklir daripada impor,” kata Cornelis usai rapat dengan Menteri Tenaga Hijau serta Teknologi Malaysia di Bengkayang, Kalbar, Selasa (10/5/2016).

Dia menegaskan, Kalbar merupakan daerah yang aman untuk PLTN sebab leluasa gempa. Soal risiko akibat lingkungan, itu bisa dimitigasi dengan teknologi.

“Kita punya tidak sedikit uranium, bahan bakunya ada, daerah kami juga aman. Tapi teman di atas (pemerintah pusat) maunya lain, apa boleh buat?” ucapnya.

Cornelis mengaku sebetulnya malu daerahnya wajib mengimpor listips. Tapi apa boleh buat, pemerintah pusat tidak mau membangun PLTN serta dalam waktu dekat belum bisa membangun pembangkit-pembangkit listips baru untuk menerangi Kalbar.

Rakyat di Kalbar pasti tidak boleh dibiarkan semakin menderita akibat byar pet, yang paling penting keperluan listips mereka wajib terpenuhi dulu. Maka jalan satu-satunya untuk sekarang merupakan mengimpor listips sembari menantikan pembangkit-pembangkit baru berakhir dibangun.

“Kalau teman sebelah (negara tetangga) bangun pembangkit, kami bisa beli listipsnya, yang penting lampu nasib dulu. Kalau kami bangun sendiri kan biayanya mahal, lama, belum ada kepastian. Yang penting rakyat bisa terang,” tutupnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*