Babak Baru Kasus Jessica Kopi Sianida

Babak Baru Kasus Jessica Kopi Sianida - Beritahok.com

Babak Baru Kasus Jessica Kopi Sianida - Beritahok.com

Beritahok.com – Permasalahan pembunuhan Wayan Mirna Salihin dengan tersangka Jessica Kumala Wongso memasuki babak baru seusai Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta menyebutkan arsip perkara permasalahan tersebut lengkap alias P21.

Kejati DKI Jakarta menyebutkan, arsip perkara Jessica lengkap seusai polisi melimpahkan 37 barang bukti, tergolong rekaman CCTV, satu unit mesin penggiling, serta dua sampel celana panjang tersangka yang hilang.

Pada pelimpahan bagian dua, Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat juga menyebutkan semua barang bukti sudah terpenuhi.

“Kali ini, tanggal 27, proses penyerahan bagian dua, tersangka Jessica dengan barang bukti sudah kami terima. Atas penyerahan itu, JPU (jaksa penuntut umum) meperbuat penelitian serta semua dinyatakan terpenuhi,” ucap Kepala Kejaksaan Negeri Jakarta Pusat Hermanto di kantor Kejari Jakarta Pusat, Jumat (27/5/2016).

Jessica yang sejak kemarin resmi menjadi tahanan Kejari Jakarta Pusat pun dipindahkan dari Rutan Polda Metro Jaya ke Rutan Khusus Wanita Pondok Bambu, Jakarta Timur. Dirinya dititipkan di Rutan Pondok Bambu selagi 20 hari.

“Tersangka Jessica kami titipkan ke Rutan Pondok Bambu terhitung 20 hari, terhitung kali ini (Jumat),” kata Hermanto.

Selama 20 hari tersebut, JPU bakal melengkapi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk segera dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

“JPU bakal melengkapi kelengkapan arsip itu sendiri serta sesegara mungkin melimpahkan ke PN Jakarta Pusat,” kata dia.

Kuasa hukum Jessica, Yudi Wibowo, mempertanyakan barang bukti tersebut. Pemakaian sampel celana yang hilang untuk dijadikan barang bukti dianggap perbuatan yang tak sesuai.

“Kalau alat bukti semacam celana dibelikan di Pasar Tanah Akang itu kan enggak dapat, bukan alat bukti itu. Itu namanya ilmu gatuk, kalau orang Jawa ngomongnya ilmu gatuk itu (artinya) ditepat-tepatkan, asal sesuai memenuhi unsur gitu,” kata Yudi, seusai menemani Jessica ke Rutan Pondok Bambu.

Padahal, kata Yudi, barang bukti itu sewajibnya merupakan yang disita dari tempat kejadian.

“Itu wajib disita di saat kejadian itu ya, ada apa di situ, yang mendukung pasal yang disangkakan itu,” ucap Yudi.

Kuasa hukum Jessica lainnya, Hidayat Bostam, juga heran mengapa mesin penggiling kopi turut sehingga alat bukti untuk kliennya.

“Emang Jessica bikin kopi? Jessica kan tamu di situ. Jessica di situ, dirinya pesan kopi, kenapa ada alat bukti itu?” ucap Bostam.

Meski demikian, Bostam berkata, di persidangan kelak semua alat bukti itu bakal diuji.

“Makanya kami bakal buka, bakal kami lihat kelak dalam persidangan. Kami bakal uji itu semuanya,” ucapnya.

Dalam permasalahan ini, Mirna tewas seusai minum es kopi vietnam di Kafe Olivier, Grand Indonesia, pada 6 Januari 2016. Ketika itu, ia sedang bersama dengan dua kawannya, Jessica serta Hani.

Hasil pemeriksaan laboratorium forensik menunjukkan, kopi yang diminum Mirna mengandung racun sianida. Polisi kemudian menetapkan Jessica sebagai tersangka permasalahan pembunuhan itu pada Jumat (29/1/2016) malam serta meringkus Jessica keesokan harinya, Sabtu (30/1/2016) pagi.

Jessica dijerat Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana jo Pasal 338 KUHP mengenai Pembunuhan. Jessica bakal terancam hukuman mati.

“Pasal 340 serta 338 (KUHP), 340-nya hukuman mati,” tutur Kajari Jakarta Pusat Hermanto.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*